FGDFGFNILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM
(ANALISIS KANDUNGAN SURAT AL-ASHR)
A. Latar Belakang
Dewasa ini karena manusia sedang menghadapi perubahan yang begitu cepat yang timbul sebagai dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kajian-kajian dan telaah-telaah mengenai konsep pendidikan, tinjauan pendidikan dan hal-hal yang mendukung terlaksananya proses pendidikan menjadi tetap menarik untuk didiskusikan. Apalagi jika hal tersebut didasarkan pada asumsi bahwa segala problem itu berpangkal dari upaya penerapan konsep pendidikan yang mampu mendorong progresifitas ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an sebagai kumpulan wahyu terakhir memberikan perhatian yang serius terhadap masalah pendidikan, Karena kitab suci ini diturunkan untuk kepentingan dan kebahagiaan manusia sendiri. Sebagaimana yang menjadi tujuan Al-Qur’an memberikan jawaban terhadap pertanyaan sentral tentang arah perilaku manusia dalam kehidupan kolektif mereka “bagaimana saya seharusnya berperilaku dalam kehidupan ini?” corak perilaku manusia sepenuhnya ditentukan oleh pandangan moralnya, dan moral ini menurut Al-Qur’an mungkin menjadi solid bila ia didasarkan pada nilai-nilai transendental keNabian. Mencari landasan moral diluar itu sudah pasti akan mencemari fitrah, karena itu berarti melepaskan nilai kesucian yang paling asasi. Sebab hakekatnya Al-Qur’an merupakan sekenario dari tuhan sebagai garis yang dilakukan dalam kehidupannya guna menjadi kholifah yang terbaik dimuka bumi ini.
Pendidikan yang terjadi saat ini merupakan hasil dari kebijaksanaan politik pemerintah. Yakni pendidikan yang bersifat dan berideologi meterialisme-kapitalis. Ideologi pendidikan yang demikian ini memang secara teoritis tidak nampak, akan tetapi secara obyektif merupakan realitas yang tidak dapat dibantah lagi. Materialisme atau proses yang menjadikan semua yang bernilai materi telah mempengaruhi segala sendi sistem pendidikan , termasuk sistem pendidikan Islam. Sendi-sendi yang dimasuki bukan hanya materi pelajaran, pendidik, peserta didik, manajemen, lingkungan, akan tetapi juga tujuan pendidikan itu sendiri. Jika tujuan telah mengarah kepada hal-hal yang bersifat materi, maka apa yang diharapkan dari proses pendidikan tersebut?
Setiap manusia menurut Al-Qur’an diperintahkan untuk berfikir, menela’ah serta memahami isi A-Qur’an seperti yang diperintahkan dalam surat Muhammad (47.24) yang artinya: apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?
Pemahaman seseorang terhadap suatu masalah bukan hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasannya tapi juga oleh latar belakang pendidikannya, tingkat pengetahuannya dan pengalamannya serta kemampuan memetik buah dari peristiwa yang lalu, masa kini dan penemuan ilmiah. Karenanya cara berfikir dari hasil pemikiran orang terdahulu tidak mutlak sama dengan cara dan hasil pemikiran kita masa kini. Pemaknaan dan pemahaman Al-Qur’an yang terus berkembang seiring dengan inovasi-inivasi baru dalam segala bidang yang ditelurkan sebagai tuntunan dari perubahan zaman.
Termasuk bidang pendidikan, karena bagaimana juga setiap upaya formulasi pemikiran dalam hal ini bidang pendidikan, terlebih lagi bila dikaitkan dengan upaya interpretatif terhadap wahyu sudah barang tentu harus terus mengalami pembaharuan. Metode penyampaian pendidikan harus terus kita koreksi dan wahyu-wahyu tuhan terus kita gali pemaknaannya sampai kita menemukan yang terbaik dan paling pas dizaman ini.
Persoalannya, pendidikan belakangan ini terasa kurang mengarah kepada pembentukan insan kamil, manusia sempurna. Pendidikan kurang menekankan adanya keseimbangan antara aspek spiritual dengan intelektual, antara kebenaran dan kegunaan dalam diri manusia itu sendiri. Sehingga membentuk manusia yang individualis, materealis dan pragmatis. Hal ini akan menimbulkan akibat yang kuat menindas yang lemah, yang berwenang berbuat sewenang-wenang dan yang berkuasa bertindak tanpa dosa dan siksa. Adapun penyebab utama adalah adanya paham sekuler yang dengan sengaja melalui sains modern masuk kedalam system pendidikan yang oleh sosiolog modern itu diartikan sebagai pembebesan manusia dan sikap religius. Kondisi ini akan berlangsung terus apabila kita mau menyadari bahwa hal ini tidak segera diadakan perubahan.
Ada yang harus kita kaji tentang surat Al-Asr, yang disana sebenarnya telah mengandung sebuah konsep kehidupan yang spesifik terkandung proses pendidikan. Bahkan oleh Imam Syafi’i mengatakan “Seandainya umat Islam memikirkan kandungan surat ini, niscaya (petunjuk-petunjuknya) mencukupi mereka”. Konsep yang dikandungnya yang terpenting ada empat point yaitu: beriman, beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Ada sebuah proses dalam urutan pointnya yang menjadi keberhasilan sebuah proses pendidikan. Dan pada point ketiga dan keempat menunjukkan proses saling menasehati. Dimana menasehati merupakan salah satu metode pendidikan, yang dalam hal ini bisa dilakukan siapa saja. Artinya strata antara pendidik dengan terdidik lebih dihilangkan, sehingga pendidikan dengan cara ini lebih halus mengena. Hal ini yang akan bisa menjadikan pendidikan lebih baik atau sebaliknya.
Di era sekarang ini, dimana proses informasi begitu cepat dan global membuat manusia cenderung lupa dan mudah terlena, maka menasehati dalam kebenaran dan kesabaran dalam bentuk dan kemasan apapun menjadi kebutuhan sehari-hari agar manusia kembali dalam kebenaran dan menjalani hidup dengan sabar. Bahkan pada zaman sahabatpun metode ini sudah sangat lazim. Diriwayatkan oleh Abu Muzaimah Ad Darimy, seorang sahabat bahwa para sahabat nabi apabila berjumpa, maka mereka mambaca surat Al-Asr dengan maksud mengingatkan. Kemudian masing-masing memberi salam. Seiring dengan perkembangan teknologi, harusnya kita mampu mengemas nasehat itu kedalam media-media yang inovatif dan dirasa dapat mengena.
B. Rumusan Masalah
Berpijak dari pembahasan masalah tersebut diatas, kami rumuskan masalah sebagai berikut:
a. Apa motif dan inti kandungan surat Al-Ashr
b. Bagaimana Pendidikan dalam perspektif surat Al-Ashr
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui motif dan inti kandungan surat Al-Ashr
b. Untuk mengetahui Pendidikan dalam perspektif surat Al-Ashr
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :
a. Secara aplikatif
Dapat dimanfaatkan sebagai wacana baru dalam pemahaman sebuah surat dalam Al-Qur’an berkaitan dengan pendidikan
b. Secara Akademis
Sebagai sumbangan untuk memperkaya khasanah ilmiah tentang kandungan isi Al-Qur’an terutama surat Al-Asr dan dapat digunakan untuk mengisi perpustakaan.
E. Landasan Teori
Sebagaimana diketahui bahwa manusia adalah sebagai kholifah Alloh di alam. Sebagai khalifah maka manusia mendapat kuasa dan wewenang untuk melaksanakannya. Dengan demikian, pendidikan merupakan urusan hidup dan kehidupan manusia merupakan tanggung jawab manusia itu sendiri. Untuk mendidik diri sendiri manusia harus memahami dirinya sendiri. Apa hakekat manusia, bagaimana hakekat hidup dan kehidupannya. Apa tujuan hidupnya dan apa pula tugas hidupnya.
Menurut Imam Al Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan insan paripurna, baik di dunia atau di akhirat. Menurut Imam Al Ghazali pula manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila mau mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadhilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadhilah ini selanjutnya dapat membawanya untuk dekat kepada Alloh dan akhirnya membahagiakannya hidup didunia dan akhirat.
Harus kita ketahui bahwa Al-Qur’an adalah sumber segala macam ilmu pengetahuan, Alloh SWT menaruh padanya perkara segala urusan, Alloh menjelaskan padanya segala petunjuk kebenaran, karennya kita melihat setiap orang yang mempunyai ilmu pasti berpegang padanya dan hanya mengambil ilmu darinya.
Maka dari itu ada yang harus kita kaji tentang surat Al-Asr, yang disana sebenarnya telah mengandung sebuah konsep kehidupan yang spesifik terkandung proses pendidikan. Bahkan Imam Syafi’i mengatakan “Seandainya umat Islam memikirkan kandungan surat ini, niscaya (petunjuk-petunjuknya) mencukupi mereka”. Konsep yang dikandungnya yang terpenting ada empat point yaitu: beriman, beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Ada sebuah proses dalam urutan pointnya yang menjadi keberhasilan sebuah proses pendidikan. Dan pada point ketiga dan keempat menunjukkan proses saling menasehati. Dimana menasehati merupakan salah satu metode pendidikan, yang dalam hal ini bisa dilakukan siapa saja.
F. Metode Penelitian
Pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah diperoleh melalui penelitian ilmiah dan dibangun diatas teori tertentu. Teori itu berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang sistematik dan terkontrol berdasar atas data empiris. Teori itu dapat diuji dalam hal keajegan kan kemantapan internalnya. Artinya jika penelitian ulang dilakukan orang lain menurut langkah-langkah yang serupa pada kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang ajeg. Yaitu hasil yang sama atau hampir sama dengan hasil terdahulu. Pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi hampir setiap orang, karena penelitian tersebut tidak diwarnai oleh keyakinan pribadi, bias, dan perasaan. Cara penyampaiannya bukan subjektif melainkan objektif.
1. Pola dan Jenis Penelitian
Dalam hal ini penulis mencoba meneliti dan mengkaji isi kandungan dari Al-Qur’an Surat Al-Ashr dengan menggunakan Kajian Pustaka, yaitu penampilan argumentasi penalaran keilmuan yang memaparkan hasil kajian pustaka dan hasil olah pikir peneliti mengenai suatu masalah atau topik yang didalamnya memuat beberapa gagasan yang berkaitan yang harus didukung oleh data yang diperoleh dari perputakaan.
Ditinjau dari jenisnya maka penelitian ini dapat dikatakan penelitian kepustakaan. Dari peristilahan diatas dapat dikatakan pula bahwa penelitian ini merupakan penelitian yang lebih berorientasi pada penggalian data atau tepatnya referensi berasal dari hasil karya ilmiah atau karya tulis yang ada sebelumya.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dari hal-hal yang akan dibahas ataupun teori-teori yang akan digunakan dalam perumusan data dimaksud yang kemudian disimpulkan. Data ini dapat berupa transkip, catatan, surat kabar, majalah, prasasti, dan sebagainya. Skripsi ini menggunakan metode pengumpulan dokumentasi.
3. Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang mudah dibaca dan di interprestasikan.
Metode yang lebih mengedepankan pada pengungkapan aspek esensi dari beberapa preposisi yang ada. Metode ini merupakan watak dari peninjauan dari berbagai teori dan analisis kritis tentang konsepsi-konsepsi yang ada dan membuat pemahaman baru terhadap realitas.
Metode analisis data dalam skripsi ini menggunakan content analisis. Conten analisis merupakan analisis ilmiah tentang isi dan pesan suatu komunikasi. Strukturalisme semiotik adalah strukturalisme yang dalam membuat analisis pemaknaan suatu karya sastra mengacu pada semiologi (semiologi adalah tanda-tanda dalam ilmu tentang tanda-tanda ilmu sastra). Strukturalisme pada dasarnya berasumsi bahwa karya sastra merupakan suatu kontruksi dari unsur tanda-tanda dan memandang bahwa keterkaitan dalam struktur itulah yang mampu memberi makna yang tepat. Pada pembacaan atau telaah strukturalisme semiotik dalam skripsi ini menggunakan heruistik yang diberangkatkan telaahnya dari kata-kata, bait sastra dan term-term Al-Qur’an dari ayat-ayat dalam Al-Qur’an.
Secara semantik (yaitu bagian dari tata bahasa yang menyelidiki tentang tata makna atau arti kata-kata dan bentuk linguistik, fungsinya sebagai simbul dan peran yang dimainkan dalam hubungannya dengan kata lain dan tindakan manusia), suatu aturan moral merupakan sebuah sektor dari dunia “tertafsirkan” yang penuh makna ini.
Secara praktis yang penulis lakukan dalam penulisan skripsi ini meliputi beberapa tahapan. Yang pertama mengumpulkan referensi-referensi yang ada. Kedua, mengkomparasikan pendapat mufasir, para pakar dan ahli yang terdapat dalam referensi. Yang ketiga, melakukan proses identifikasi pada data-data yang diperoleh. Keempat, dari data yang sudah diidentifikasi diinterprestasikan sehingga berbentuk sebuah skripsi.
G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan merupakan prasyarat untuk pemahaman terhadap sebuah karya terutama karya ilmiah. Berdasarkan hal ini, untuk
mempermudah pemahaman terhadap skripsi ini, maka dibuat sistematika pembahasan sebagai berikut:
1. Bagian preliminier.
2. Bagian pokok.
3. Bagian akhir.
Bagian preliminier berisi beberapa hal yang bersifat formal seperti judul kajian, persetujuan pembimbing, pengajuan, pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi dan abstrak.
Bagian pokok berisi uraian kerangka teori, Proses kajian dan hasil-hasil yang berkaitan dengan tema atau judul skripsi. Bagian ini memberikan gambaran pokok pola pikir ilmiah, bagian ini terdiri dari:
BAB I : Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, , rumusan masalah,tujuan penelitian, manfaat penelitian, landasan teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
BAB II : Pembahasan tentang surat AI-Asr berkisar pada motif diturunkannya surat A1-Ashr dan kandungan inti surat Al-Ashr yang terdiri dari empat point yang penting.
BAB III : Membahas pendidikan yang berkisar pada definisi pendidikan Islam, Ruang Lingkup Pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam dan metode pendidikan baik digali dari pernyataan pakar berpandangan Islami maupun barat.
BAB IV : Membahas pendidikan yang diperlukan dan penafsiran surat Al-Ashr yang menghasilkan tiga hal.
BAB V : Penutup berisi kesimpulan dan saran-saran.
Pada bagian akhir terdiri dari daftar pustaka, lampiran-lampiran. Bagian akhir dari skripsi ini sifatnya komplementatif yaitu melengkapi atau menambah validitas isi skripsi dan kejelasannya.
FDGF